Contributor: Anggara Elizabeth Manurung

Photographer: Danny Sean

 

Hari pertama

Hari Sabtu biasanya hari di mana orang cenderung ingin bermalas-malasan dan bangun agak lebih siang. Tapi Sabtu ini berbeda, karena hari ini telah dijadikan Tuhan bagi IFC Singapore – all pumped up for the long awaited IFC Retreat 2015: “Be Still”!

Sejak jam 09.00 pagi waktu Singapura, lebih kurang 60 anggota keluarga IFC Singapura – para bapak, ibu, anak muda, juga dede-dede imut dengan kereta bayi mereka – mulai meramaikan HarbourFront Centre, terpencar sarapan di beberapa restoran cepat saji di sana. Para panitia yang cantik-cantik juga terlihat sibuk grasak-grusuk mengurus ini-itu. Beberapa laki-laki IFC yang macho juga sudah siap tempur mengangkut alat-alat musik yang akan digunakan nanti. Cihuy lah pokoknya! Batam here we come!

DCIM100GOPROGOPR1995.

Just reached Batam ferry terminal! Look at those excited faces!

Sesampainya di Hotel Harris setelah 5 menit shuttle bus ride dari ferry terminal, rombongan kami disambut oleh makan siang. First impression: supergood food! Indonesian food is indeed the best! Tapi ternyata itu belum apa-apa dibandingkan makanan rohani yang kami dapat setelah itu di sesi 1.

DCIM100GOPROGOPR2004.

Praise & Worship session 1

Pembicara kami kali ini adalah Pak Taufik Barlian yang gaya bicaranya cablak, penuh humor tapi juga berapi-api dan penuh kebenaran firman-Nya. Dalam sesi 1, salah satu sesi yang paling berkesan untuk para peserta, Pak Taufik membagikan tentang 5 “raksasa-raksasa” yang kita hadapi dalam kehidupan. Selama ini kita hanya familiar dengan raksasa Goliat yang melambangkan intimidasi. Tapi ternyata ada 4 raksasa lainnya yang biasa menyerang kita juga, antara lain raksasa kesombongan, keserakahan, kemunafikan dan hawa nafsu. Kena banget deh!

Seusai sesi 1, sesi heboh dimulai karena Bapak gembala Yakub Surya memberikan nama kepada masing-masing grup yang diadaptasi dari nama-nama makanan: Chee Chong Fun, Siomay, Fu Yung Hay, Cakwee, Cap Jae dan Ba Kut Teh. What an apt choice, Pak Yakub! I mean, after all, food is just integral in our IFC DNA. Setiap grup diberi waktu untuk menciptakan yel-yel kreatif mereka dan lalu menampilkannya ke depan dengan semangat yang garang.

Then, we were directed to the beach for the first round of games. Woohoo. Meskipun beberapa grup kewalahan karena anggotanya kebanyakan ibu-ibu dan/atau bapak-bapak yang ribet dengan anak bayi mereka…(maaf curcol sedikit), pertandingan antar grup tetap sengit dan kompetitif! Hmm, katanya mau be still? Haha yeah, we all knew we won’t get the chance to have this kind of fun in Singapore.EOS 550D_20150530_18_01_11_0014735

EOS 550D_20150530_18_04_31_0014738

After that, here comes the second session, di mana peserta diingatkan lagi bahwa kita semua dipilih oleh-Nya bahkan sebelum dunia dijadikan dan Tuhan lah yang menjadikan kita spesial. Pak Taufik then played a 14 minute clip and every second of it took our breath away. It showed the beautiful process of human conception: from how after a long arduous struggle, only one single sperm managed to get through, until a baby was fully formed in the womb, slowly and miraculously. We’re hence convinced that we’re chosen as more than conquerors and that God himself knit us together in our mother’s wombs, that we were fearfully and wonderfully made, echoing just perfectly what Psalm 139 says. Wow, amazing, isn’t it?

Hari pertama yang penuh makna ini pun ditutup dengan sharing di dalam grup masing-masing dan doa bersama sebelum akhirnya kami beristirahat secara jasmani.

 

Hari kedua

Knowing well that greater things were to come today, we got up early, prepared ourselves and excitedly gulped our breakfast before gathering at a larger venue. Hari itu dibuka dengan games tebak-tebakan judul film dari gerakan badan yang di-passed down from one group member to another. Kebayang kan tuh seberapa kocak miskomunikasinya sampai ke orang terakhir. Hahaa.

BeStill_021

Poweful sessions marathon began. Pada sesi ke 3, Pak Taufik memperkenalkan kami pada konsep false belief, yaitu kepercayaan atau pemahaman akan hal tertentu yang terpatri dalam diri kita sedari kecil, yang sebetulnya tidak benar dan cenderung memenjarakan kita. Biasanya disebabkan pengaruh sekitar terutama orang-orang terdekat seperti orang tua. Beliau pun memberi contoh dari kesaksian pribadinya tentang bagaimana beliau dipulihkan dari false belief yang dia pegang dari kecil.

BeStill_039

BeStill_050

Sesi selanjutnya masih berkaitan – kami diajak untuk menilik aspek-aspek kehidupan kami secara keseluruhan, mulai dari spiritual, family, finances/career, education, social and health. Pada akhir sesi, Pak Taufik tergerak untuk altar call dan melayani kami yang rindu untuk didoakan secara personal. We all would agree that it was God himself who ministered to us and healed us! Kami menyaksikan kasihNya dinyatakan, jiwa-jiwa dilawat dan dipulihkan. Haleluya! For some of us, it might be the first time we experienced the tangibility of God’s touch and were renewed. It was also heartening to see us praying and encouraging one another.

BeStill_069

Diselingi break singkat, sesi terakhir untuk hari ini adalah sesi berdiskusi dalam kelompok untuk mengupas perikop dalam Yohanes 15 tentang hidup sebagai ranting yang menempel pada pokoknya.

That was also a good teamwork exercise prior to the other highlight of the night: the talent show.

Setiap grup diminta untuk mempersiapkan 2 buah penampilan: satu, yang merupakan item wajib bagi semua grup, adalah meniru Syahrini; yang ke dua, menampilkan satu tokoh dari negara spesifik yang sudah ditentukan bagi masing-masing grup.

BeStill_077

It was impressive how in less than two hours, all groups could prepare such…“wonders”. Each group came up with such creative plots for their items, even the unthinkable ones like…Syahrini digebet Ultraman waktu berlibur di Jepang… Elsa dan Anna, tokoh Frozen, online dating dengan 1 pangeran yang sama… dan lain-lain. Bahkan beberapa pria perkasa juga dipertaruhkan harkat-martabatnya dengan didandani menor demi totalitas untuk memerankan Syahrini dan tokoh-tokoh pilihan lainnya. Semua urat malu diputuskan malam itu. Sungguh, perut kami dikocok habis-habisan sampai air mata kami juga ikut tumpah.

BeStill_117

As much as we wanted to forget how silly and menggelikan some of our dear bros and sis looked and acted that night, even then, we knew this night would simply be unforgettable.

 

Hari ketiga

It’s Monday? Tetap Monday blues…karena hari terakhir ini kami semua memakai kaos seragam yang warnanya biru langit. Hehe literally blues, kan 😀 And also non-literally, ‘cause this day was the last.

BeStill_143

BeStill_144

Pemuda-pemudi yang belum menikah dan pasangan yang sudah menikah dipisah pada sesi terakhir yang menjadi puncak retreat. Sesi untuk pasangan sudah menikah dipimpin oleh Ibu gembala Yenny Sari.

Sedangkan sesi untuk para pemuda dibawakan oleh Pak Taufik dengan topik hati Bapa, yaitu karakter Allah sebagai Bapa kita yang baik dan sangat mengasihi kita anak-anakNya. Dalam sesi ini, kami diberi kesempatan untuk “membereskan” hati jika ada kepahitan terhadap figur bapa di dunia yang mungkin mempengaruhi hubungan pribadi dengan Allah Bapa. And as Pak Taufik was praying for us one by one regarding this issue, we could sense that the Father heart of God was poured out amongst us to touch and renew our hearts with such sweetness and love.

BeStill_162

Walau enggan, waktu memaksa kami untuk rampung. Well, we ended strong with many celebrations: pengumuman dan pemberian hadiah kepada juara best performers, best group award, overall winner and runner-ups (tapi kami percaya kami semua lebih dari pemenang), dilanjutkan oleh perayaan ulangtahun beberapa saudara kami, lalu doa bersama untuk mereka dan juga untuk Pak Taufik sebagai bentuk terima kasih.

BeStill_180

BeStill_239

Angkut barang-barang! Next destination: shopping mall untuk makan siang dan berbelanja sedikit.

All well rested, kami pun berlabuh kembali ke negeri Singa, kali ini dengan hati yang lebih tenang dan siap untuk menghadapi badai apa pun yang menanti. Sebab kami sudah mengambil waktu untuk menjadi yakin bahwa Allah di dalam kami dan kami di dalam-Nya, and we need only to be still.

See ya all on the next IFC Retreat!

Write a comment:

*

Your email address will not be published.

© 2017 Indonesian Family Church Singapore

Follow us: